Kenali Tahapan Perkembangan Emosi dan Sosial Anak

Perkembangan fisik anak dapat dilihat secara kasat mata. Lalu, bagaimana dengan perkembangan emosi dan perkembangan sosial anak yang tidak kelihatan secara jelas? Bagaimana orang tua dapat mengetahui apakah perkembangan kedua aspek tersebut berjalan dengan baik, sesuai dengan tahapan usia si Kecil?

Perkembangan emosi si Kecil berhubungan dengan kemampuannya dalam mengenali, memahami, serta mengendalikan emosi yang ia rasakan. Pada setiap anak, ciri perkembangan aspek ini tidak selalu sama. Misalnya, ada anak yang saat kesal ia akan melempar-lempar barang atau bahkan memukul, sedangkan anak yang lain menangis atau hanya diam saja. Namun, bukan berarti anak yang suka memukul berarti nakal ya, Mam. Tindakan itu bisa jadi salah satu ciri bahwa ia belum mampu mengendalikan emosinya dengan baik.

Perkembangan sosial anak adalah kemampuan anak dalam bekerja sama dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Misalnya, ia mampu memberi perhatian terhadap penjelasan guru di sekolah, atau mampu berganti aktivitas dari yang satu ke yang lain secara mudah. Psikolog Anna Surti Ariani MPsi mengatakan, melalui kemampuan sosial, anak diharapkan antara lain mampu menyelesaikan pertengkaran, punya rasa peduli, dan mau sabar menunggu.

Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan proses perkembangan emosi maupun perkembangan sosial anak berjalan dengan sehat dan baik. Pada prinsipnya, membangun keterampilan emosi sosial adalah mengajari si Kecil untuk dapat memahami dan mengontrol emosinya, termasuk saat ia menghadapi konflik. Keterampilan ini akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter dirinya, dan bermanfaat hingga saat ia dewasa.

Ada beberapa hal yang menandakan perkembangan emosi sosial si Kecil berlangsung dengan sehat, yaitu:

  • Mampu membangun hubungan dengan orang di lingkungannya.
  • Mampu berinisiatif, menemukan hal baru, bermain, dan belajar.
  • Tekun dan mampu berkonsentrasi dengan baik.
  • Mampu mengatur dirinya sendiri.
  • Memiliki rentang emosi yang luas (tidak mudah lepas kontrol).

Berikut hal-hal yang perlu Mam perhatikan dalam membangun perkembangan emosi maupun perkembangan sosial si Kecil:
 

Bermain bersama si Kecil

Bermain merupakan salah satu kebutuhan primer setiap anak, terutama dalam usia 3-6 tahun. Mam dapat mendukung perkembangan emosi dan perkembangan sosial anak dengan cara bermain bersamanya setiap hari. Ajak si Kecil bermain peran yang berbeda-beda setiap harinya. Misalnya, minta ia menjadi pemimpin dan Mam sebagai orang yang ia pimpin. Kegiatan bermain dapat antara lain membangkitkan inisiatif anak untuk  melakukan sesuatu atau sebaliknya.
 

Melihat dari sudut pandang si Kecil

Sering bermain atau mendampingi si Kecil akan membuat Mam dan Pap belajar melihat sesuatu, termasuk masalah, dari sudut pandang anak. Dengan begitu, Mam bisa memahami dengan lebih jelas alasan, misalnya, kenapa si Kecil mengamuk atau mengambek. Mam bisa menunjukkan rasa empati dan dengan lembut memberitahunya cara menyikapi emosi yang ia rasakan.
 

Memecahkan masalah bersama-sama

Anak biasanya menjadi kesal atau marah ketika ia menemui suatu kesulitan dan tidak tahu bagaimana mengatasinya. Mam dapat membimbingnya menghadapi situasi seperti ini dengan mengajaknya mengenali sumber masalah, lalu memecahkannya bersama-sama.

Misalnya, saat ia ingin bermain sepeda bersama teman-temannya, ternyata ban sepedanya kempes dan ia pun kesal. Bicarakan baik-baik mengenai penyebabnya, lalu ajak si Kecil untuk memecahkan masalah tersebut bersama-sama. Misalnya, karena ban sepedanya kempes, solusinya adalah memompanya. Setelah ban sepeda tidak  kempes lagi, ia pun dapat kembali menaiki sepeda dan menyusul teman-temannya. Tindakan ini sekaligus melatih anak untuk  berpikir logis, Mam.
 

Berikan batasan

Anak usia 1-3 tahun terkadang melakukan aksi memukul sebagai bentuk pelampiasan dari emosi yang ia rasakan. Bisa jadi ia tak paham bahwa tindakannya itu memiliki konsekuensi negatif, seperti membikin sakit atau marah orang yang dipukul.

Dalam membangun keterampilan emosi dan sosial si Kecil, Mam juga perlu mengajarkan  tentang perbedaan perilaku baik dan buruk, dan seperti apa batasannya. Misalnya, ketika ia marah, ia boleh saja bersikap kesal dengan berteriak atau menangis. Namun, ia tidak boleh memukul karena itu akan membuat orang yang dipukul kesakitan.

Dalam mendukung perkembangan emosi dan perkembangan sosial si Kecil, sangatlah penting bagi Mam dan Pap untuk selalu mendampinginya. Dengan begitu, Mam dan Pap akan lebih mudah memantau perkembangan kedua aspek tersebut. Ia juga akan lebih mudah mengingat dan menerapkan nasihat yang Mam dan Pap berikan. Bagaimana pun, orang tua adalah contoh paling baik bagi anak dalam segala hal, termasuk dalam mengendalikan emosi dan bersosialisasi.

Mam dan Pap tentu juga harus mendukung proses tumbuh kembang fisik dan mental si Kecil. Salah satu caranya adalah dengan memberikan asupan nutrisi yang dapat membantu langkah awal kepintarannya. Mam dan Pap dapat membiasakan si Kecil minum susu pertumbuhan S-26 Procal dengan Nutrissentials, dengan nutrisi penting seperti protein, AA, DHA, Omega 3, Omega 6, serta mineral penting seperti zat besi dan kalsium.

Selamat mendukung perkembangan emosi dan perkembangan sosial anak, Mam!
 

Sumber:

  1. id.theasianparent.com/tahap-perkembangan-emosi-dan-sosial-anak-3-12-tahun/
  2. health.detik.com/read/2016/09/29/153232/3309812/764/kata-pakar-begini-perkembangan-emosi-dan-sosial-pada-anak-usia-1-3-tahun
  3. ayahbunda.co.id/bayi-psikologi/mengarahkan-perkembangan-emosi-anak
  4. id.theasianparent.com/tahapan-perkembangan-emosi-dan-sosial-batita/3/


Diakses pada 7 September 2017

This article was helpful for 0 moms.


Smart Strength Finder

Merupakan tool bagi orangtua untuk mengetahui kepintaran si Kecil. Hasil tes Smart Strength Finder akan membantu orangtua dalam memberikan stimulasi tepat sesuai dengan kepintaran si Kecil.

Lihat selengkapnya