Pentingnya Mengasah Kemampuan Anak Belajar Progresif Menurut Psikolog Anak

Pentingnya Mengasah Kemampuan Anak Belajar Progresif Menurut Psikolog Anak

Waktu membaca: 7 menit

Menurut Mark Mc Crindle, peneliti sosial yang pertama kali menyebut anak-anak yang lahir di tahun 2010-2045 sebagai  “Generasi Alpha”, Generasi Alpha diperkirakan akan menjadi generasi paling terdidik. Generasi ini juga merupakan generasi yang sangat dekat dengan teknologi . Namun untuk mendidik si Kecil yang merupakan generasi Alpha, proses belajar konvensional tak lagi cukup. Mam perlu mengasah kemampuannya untuk belajar secara progresif.

Untuk Si Kecil yang merupakan generasi Alpha, proses belajar progresif dapat membantu meningkatkan potensi yang mereka miliki. Proses belajar progresif tidak berfokus pada hafalan melainkan lebih memfokuskan pada kemampuan Si Kecil untuk berpikir kritis. Lewat proses belajar progresif, aspek tumbuh kembang si Kecil mulai dari motorik, kognitif, bahasa, hingga emosional akan terstimulasi. Agar lebih memahami pentingnya proses belajar progresif untuk si Kecil di rumah, yuk simak pembahasannya oleh Psikolog Anak dari Tiga Generasi, Marcelina Melisa, M.Psi. berikut ini, Mam.

  • Mengapa proses belajar progresif lebih cocok untuk Gen Alpha? Apa kelebihannya dibanding proses belajar konvensional?
    Generasi Alpha memiliki kebutuhan untuk bersaing yang lebih tinggi. Generasi Alpha lahir di dunia volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA) dimana anak harus memiliki fleksibilitas tinggi, kemampuan berpikir kritis, dan memiliki kemampuan pemecahan masalah serta kepemimpinan. Terdapat empat pilar dari belajar progresif yang merupakan keunggulan metode belajar dan cocok bagi Generasi Alpha. Pertama, Child Centered Learning yang mengutamakan Si Kecil untuk eksplorasi pengetahuan, informasi di hadapannya. Orang tua, pengajar, ataupun lingkungan sekitar menjadi support system yang memfasilitasi dan membimbing Si Kecil dalam proses belajarnya. Kedua, personalized learning mengajak Mam dan support system untuk eksplorasi dan memahami Si Kecil lebih dalam agar dapat mendukungnya dalam proses belajar yang disesuaikan dengan tahapan tumbuh kembang, minat, dan potensinya. Ketiga, experiential learning atau anak belajar melalui berbagai pengalaman dan mengaitkan dengan lingkungan sekitar. Keempat sekaligus merupakan evolusi penting dai belajar tradisional adalah Collaborative and Cooperative Learning. Si Kecil didorong untuk belajar berkolaborasi dan bekerja sama dengan lingkungan sekitarnya. Tentunya Mam juga setuju bahwa bagi Generasi Alpha yang hidup di era VUCA menjadi teramat penting supaya dapat meraih masa depan hebat.
     
  • Proses belajar progresif dapat menggunakan teknologi sebagai alat bantu, tapi apakah proses belajarnya harus bergantung pada teknologi dan internet? 
    Generasi Alpha lahir di tengah kecanggihan teknologi dan informasi yang mudah didapatkan. Mereka memang sebaiknya memiliki digital literacy atau kemampuan untuk belajar menggunakan media elektronik yang disesuaikan dengan rekomendasi usia penggunaan screen time. Meski demikian, pembelajaran tidak hanya bergantung pada teknologi dan internet, melainkan dapat memanfaatkan berbagai benda dan hal di sekitarnya. Misalnya dengan membuat alat peraga terkait materi yang sedang dipelajari, atau memahami berbagai konteks situasi dalam menyelesaikan masalah. Berbagai aspek perkembangan, terutama motorik kasar dan motorik juga harus tetap diberikan stimulasi yang memadai sesuai usianya.
     
  • Kegiatan inovatif apa saja yang bisa Mam lakukan di rumah untuk mengoptimalkan & mengasah proses belajar progresif di rumah selama masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini agar anak tidak merasa bosan?
    1.) Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan lewat project, fun quiz & activity dari pembahasan yang dipelajari.
    2.) Memanfaatkan barang yang terdapat di sekitar kita untuk belajar melalui pengalaman. Misalnya saat anak belajar tumbuhan, orang tua dapat mengajak anak untuk belajar di taman dan melihat sendiri berbagai jenis tanaman seperti yang dipelajari di buku.
    3.) Bereksplorasi dengan memberikan aktivitas di berbagai bidang. Misalnya : mengajak anak untuk terlibat dalam aktivitas di dapur, merawat binatang, bagaimana memahami cara kerja lampu secara sederhana sambil mengganti lampu di rumah.
     
  • Apa hal yang mungkin perlu diperhatikan oleh orang tua agar tak kesulitan atau kewalahan saat menerapkan proses belajar progresif kepada anaknya?
    1.) Mengetahui tahapan perkembangan anak dan memberikan cara belajar yang sesuai dengan usianya. Untuk Toddler (1-3 tahun) cara belajar yang sesuai adalah melalui berbagai pengalaman dan aktivitas sensori, yaitu: penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman dan pengecapan, keseimbangan, motorik. Sedangkan untuk anak-anak (3 tahun ke atas) adalah melalui pembelajaran konkrit, membutuhkan alat peraga, bermain sambil belajar, dan gaya belajar yang sesuai.
    2.) Menentukan pengalaman apa yang ingin diberikan kepada anak melalui aktivitas yang direncanakan dengan matang sehingga tidak kesulitan dalam mempersiapkan perlengkapan atau menentukan waktu yang tepat bagi anak untuk mengerjakannya.
    3.) Melibatkan anak dalam menentukan aktivitas, sehingga orang tua juga mengetahui apa keinginan anak.
     
  • Bagaimana cara memanfaatkan teknologi dan internet untuk mendukung proses belajar progresif tanpa membuat si Kecil “kecanduan teknologi & internet”?
    1.) American Academy of Pediatrics menyarankan anak usia di bawah 18 bulan tidak terpapar screen time, sedangkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tidak menyarankan screen time untuk anak di bawah 2 tahun. Untuk anak usia ini, memanfaatkan teknologi untuk belajar bisa diganti dengan menggunakan mainan edukasi berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts and Math) . Anak usia 2-5 tahun dapat menggunakan screen time dengan durasi maksimal satu jam per hari, dengan didampingi orang tua dan diajak berkomunikasi dua arah, serta memperhatikan konten yang diberikan haruslah bersifat edukatif. Anak berusia di atas 5 tahun disarankan menentukan durasi screentime yang disepakati bersama orang tua, tidak mengganggu fungsi sehari-hari, didampingi orang tua dan diajak berkomunikasi dua arah, serta memperhatikan konten yang diberikan haruslah bersifat edukatif.
    2.) Manfaatkan teknologi dan internet hanya sebagai media tanpa menimbulkan ketergantungan pada anak.
    3.) Gunakan fitur yang terdapat dalam perangkat elektronik untuk membatasi aplikasi belajar yang digunakan. Anak tidak menggunakan aplikasi lain selama belajar, misalnya : bermain game dan menonton video.
    4.) Berikan anak aktivitas non-gadget dan jadikan aktivitas tersebut sebagai aktivitas primer anak.
     

Mendidik generasi Alpha memang tak bisa lagi hanya mengandalkan cara belajar konvensional tapi harus menerapkan proses belajar progresif. Mam sebagai orang tua juga harus turut berperan aktif dalam mengasah dan mendukung proses belajar progresif Si Kecil agar ia mampu beradaptasi dan juga kompetitif di perkembangan masa depan . 

Selain belajar progresif, proses belajar Si Kecil juga perlu didukung dengan nutrisi yang penting untuk perkembangannya. S-26 Procal GOLD Multiexcel Alphalipids System siap mendukung Mams agar Si Kecil, Si Generasi Alpha #DariBelajarJadiHebat. S-26 Procal GOLD menghadirkan rangkaian produk berkualitas dan berbagi berbagai informasi dan inspirasi kegiatan untuk dukung belajar progresif Si Kecil, yang dapat Mam akses melalui www.wyethnutrition.co.id dan juga Facebook serta Instagram @wyethnutritionid Selain itu, S-26 Procal GOLD melalui S-26 Loyalty Program juga menawarkan berbagai kemudahan dan rewards menarik untuk para members setianya.
 

Yuk Cari Inspirasi Hebat Lainnya

Setiap Anak Mampu Menjadi Yang Terbaik Yang Mereka Bisa

Banyak orangtua bertanya-tanya apakah anak mereka pintar.
Average Rating
Average: 4 (1 vote)
Berikan Rating

Please login to leave us a comment.

Login