Gaya Belajar Kinestetik: Ciri dan Cara Mendampingi Anak
Anak yang cenderung aktif bergerak, sering tampak sulit berkonsentrasi saat duduk diam, dan lebih mudah memahami sesuatu melalui pengalaman langsung kemungkinan besar memiliki gaya belajar kinestetik.
Ini adalah salah satu gaya belajar yang unik, di mana anak menyerap informasi paling efektif melalui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung, bukan sekadar mendengar atau melihat.
Atau mungkin Mam melihat bahwa si Kecil lebih menyukai cara belajar menggunakan gambar daripada mendengarkan?
Hal tersebut terjadi karena setiap anak punya kemampuan belajar dan cara menyerap informasi yang unik. Jika si Kecil cenderung lebih aktif dalam aktivitas fisik, bisa jadi ia memiliki gaya belajar kinestetik.
Sedangkan, si Kecil yang menyukai belajar dengan gambar mungkin memiliki kecerdasan visual spasial. Kedua tipe belajar anak tersebut memiliki cara mengembangkan kecerdasan yang berbeda pula.
Lalu, bagaimana cara mengembangkan kecerdasan kinestetik dan visual spasial pada si Kecil? Dan bagaimana manfaat susu nutrisi lengkap dapat membantu mengoptimalkan kecerdasan si Kecil? Simak ulasannya berikut ini.
Memahami Anak dengan Kecerdasan Kinestetik
Tanda anak cerdas kinestetik bisa diamati dari kemampuan si Kecil dalam mengontrol gerak tubuh dan kemahirannya mengelola objek. Si Kecil cenderung lebih suka berekspresi dengan mimik atau gaya, menyukai kegiatan atletik atau menari, kuat, terampil dalam motorik halus seperti koordinasi tangan dan mata, serta motorik kasar.
Ciri anak kinestetik adalah mereka lebih mudah memahami materi melalui gerakan dan praktik langsung umumnya menunjukkan ketertarikan untuk mengeksplorasi lingkungan, mencoba sendiri, serta belajar melalui pengalaman nyata.
Mereka cenderung lebih mudah membangun pemahaman ketika diberi kesempatan untuk memanipulasi objek, melakukan percobaan, atau terlibat dalam aktivitas yang interaktif.
Anak dengan kecerdasan kinestetik lebih cepat bosan dengan gaya belajar yang hanya duduk diam dan mendengarkan pelajaran.
Baca Juga : Gaya Belajar Anak Usia Dini: Visual, Auditori, dan Kinestetik
Cara Mengembangkan Kecerdasan Kinestetik
Mam bisa mengembangkan kecerdasan kinestetik si Kecil di rumah sehingga bisa memaksimalkan proses belajarnya. Berikut adalah beberapa cara mengajar anak kinestetik yang bisa Mam praktikkan di rumah:
- Bermain peran dan terlibat bermain dengan si Kecil. Mam bisa bermain sebagai penjual dan pembeli, atau dokter dan pasien bersama si Kecil. Minta si Kecil menceritakan perasaannya setelah melakukan kegiatan tersebut.
- Latihan keseimbangan. Kegiatan menari mampu melatih keseimbangan gerak si Kecil, melatih keselarasan gerak, kekuatan dan kelenturan ototnya
- Terlibat dengan alam. Dibanding hanya melihat gambar, ajak si Kecil ke kebun atau taman dan biarkan ia menyentuh serta melihat langsung jenis tumbuhan yang Mam ingin kenalkan padanya.
- Buat kelas drama bersama. Si Kecil kurang tertarik jika harus duduk dan mendengarkan dongeng, namun akan berbeda ketika Mam mengajaknya memerankan tokoh dalam cerita dan menirukan geraknya.
- Dukung hobi si Kecil. Dorong anak mengikuti kompetisi maupun pertunjukan yang sesuai dengan kegemarannya. Cara ini juga akan mengasah kepercayaan diri si Kecil.
- Ajak si Kecil dalam kegiatan memperbaiki atau membuat sesuatu. Ia akan belajar memecahkan masalah dengan cara belajar yang disukainya.
- Libatkan si Kecil dalam kegiatan ekstrakurikuler. Salurkan kecerdasan kinestetik anak dengan memilih kegiatan yang banyak mengandalkan fisik seperti bela diri, menari, olahraga, dan sebagainya. Cara ini sekaligus akan membantunya bersosialisasi dengan teman sebaya.
- Kenalkan konsep bentuk dengan gerak. Si Kecil akan lebih mudah mengenali huruf dengan menggunakan gerakan, begitu juga dengan konsep panjang pendek yang dipraktekan dengan lengan.
- Berikan ruang belajar yang variatif. Bebaskan si Kecil memilih tempat dan gaya belajarnya seperti duduk di karpet, duduk di meja belajar, atau belajar di halaman rumah.
Aktivitas untuk Anak dengan Gaya Belajar Kinestetik
Aktivitas belajar yang melibatkan benda, eksperimen, simulasi, dan permainan fisik membantu anak membangun pemahaman melalui pengalaman langsung.
Anak belajar dengan mengeksplorasi, memanipulasi, dan mencoba berbagai objek, sehingga keterampilan motorik, kemampuan berpikir, serta pemecahan masalah berkembang secara bersamaan.
Contoh aktivitas yang dapat dilakukan antara lain menyusun balok, bermain puzzle, memasukkan bentuk ke shape sorter, mendorong mobil-mobilan, bermain peran (pretend play) seperti memasak, menjadi dokter, atau berbelanja, serta menggunakan alat dan benda sehari-hari seperti sendok, wadah, atau botol.
Selain itu, eksperimen sederhana, seperti mencampur warna, mengamati benda yang mengapung dan tenggelam, atau menanam biji, juga memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar melalui proses mencoba dan menemukan sendiri.
Cara Mengatur Waktu Belajar Anak
Anak usia dini umumnya memiliki rentang perhatian yang masih terbatas. Oleh karena itu, belajar dalam waktu singkat yang diselingi aktivitas fisik dapat membantu Si Kecil tetap fokus dan tidak mudah bosan.
Setelah belajar sekitar 15–20 menit, Mam dapat mengajak Si Kecil melakukan movement break selama 2–3 menit, misalnya dengan peregangan tangan dan kaki, berjalan di tempat, melompat, dan menari mengikuti irama lagu favoritnya.
Memahami Anak dengan Kecerdasan Visual Spasial
Kecerdasan visual spasial adalah kemampuan untuk memahami informasi visual secara akurat serta memahami, melakukan analisis, serta berpikir secara visual lalu menerapkannya ke dalam tindakan.
Kecerdasan visual spasial juga merupakan kemampuan anak untuk melakukan penalaran spasial pada otak, dan juga melibatkan pemahaman daya mengingat lokasi sebuah objek dalam pikiran.
Anak dengan kecerdasan visual spasial biasanya memiliki ciri-ciri seperti:
- Senang menggambar, mewarnai, dan aktivitas kreatif lainnya.
- Suka membaca dan menulis.
- Cenderung lebih cepat dalam menyusun puzzle.
- Lebih cepat menghafal dan mengenali objek atau gambar.
- Lebih mudah mengingat tempat yang baru dikunjungi.
- Mudah memahami peta, denah, atau grafis.
- Lebih cepat memahami pelajaran matematika.
Tips Mengembangkan Kecerdasan Visual Spasial
Setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda, sehingga cara mengembangkan kecerdasan si Kecil juga berbeda, termasuk untuk anak dengan kecerdasan visual spasial.
Berikut ini adalah beberapa tips cara mengembangkan kecerdasan visual spasial pada anak yang bisa Mam praktikkan di rumah bersama si Kecil:
- Berikan stimulasi belajar anak menggunakan media visual, seperti gambar atau video agar anak lebih mudah memahami pembelajaran.
- Ajak anak berkreasi dengan menggambar. Berikan Si Kecil alat tulis seperti pensil warna, krayon, atau spidol dan bebaskan ia berkreasi di atas kertas.
- Berikan mainan berupa balok permainan, lego, puzzle, atau lilin permainan yang mendorong kreativitas anak.
- Gunakan kata-kata spasial dalam menjelaskan kepada anak, seperti di dekat, di samping, di atas, besar, kecil, jauh, dekat, dll.
- Dorong anak untuk dapat memvisualisasikan idenya melalui gambar atau bentuk lainnya.
- Gunakan flash card bergambar untuk mengajarkan huruf, angka, atau benda.
- Ajarkan konsep matematika menggunakan benda-benda di sekitarnya, seperti buah-buahan atau bola warna-warni.
- Ajak anak belajar bersama dengan teman sebayanya. Hal ini tidak hanya mengembangkan kecerdasan visual spasial saja tapi sekaligus sebagai cara mengembangkan kecerdasan emosional anak dan bersosialisasi.
- Mam bisa mengembangkan kecerdasan visual spasial pada anak usia dini agar si Kecil lebih mudah menyerap pembelajaran sekaligus mengasah kemampuan belajar yang Fast, Focus & Flexible, lho. Dengan demikian, Mam secara tak langsung sudah mempersiapkan si Kecil menghadapi VUCA World.
Baca Juga : Manfaat Melukis bagi Anak untuk Kreativitas, Motorik Halus, dan Kecerdasan Visual
Belajar Tidak Harus dengan Satu Cara
Gaya belajar kinestetik dapat menjadi salah satu cara yang membantu Si Kecil belajar dengan lebih nyaman. Namun, setiap anak juga dapat memperoleh manfaat dari berbagai metode belajar lainnya, seperti melihat gambar, mendengarkan penjelasan, atau membaca bersama.
Mengombinasikan beragam pendekatan belajar dapat membantu Si Kecil mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih luas, mudah beradaptasi, dan lebih siap menghadapi berbagai situasi belajar di masa depan.
Manfaat Susu Nutrisi Lengkap
Keberadaan susu pada Pedoman Gizi Seimbang kini tak lagi sebagai penyempurna dari asupan makan sehari-hari, melainkan sebagai sumber protein dan nutrisi lain.
Seperti yang Mam ketahui, susu merupakan bahan pangan yang menjadi sumber nutrisi penting bagi tubuh. Beberapa kandungan susu nutrisi lengkap yang diketahui baik untuk tubuh seperti protein, lemak, karbohidrat, kalsium, Vitamin A, Vitamin D, vitamin B12, riboflavin, Kalium, selenium, zinc, kolin, dan magnesium.
Salah satu nutrisi penting yang tidak boleh dilewatkan adalah sphingomyelin untuk otak. Sphingomyelin merupakan salah satu komponen fosfolipid yang sangat penting untuk mendukung proses mielinisasi, yaitu pembentukan selubung saraf otak.
Kemampuan kinestetik dan visual spasial si Kecil pun bisa makin terpacu dengan mengonsumsi susu secara rutin. Berikut manfaat susu lengkap nutrisi untuk anak.
1. Tingkatkan kecerdasan otak anak
Susu sebagai salah satu sumber protein hewani memiliki kandungan Docosahexaenoic Acid (DHA) atau sama dengan lemak tidak jenuh yang membantu meningkatkan kecerdasan otak anak.2
Susu juga dapat meningkatkan kinerja kognitif, baik karena meningkatkan nutrisi secara umum atau karena secara khusus meningkatkan pertumbuhan otak.3 Dengan kemampuan kognitif yang baik, hal ini akan berdampak mendukung kecerdasan kinestetik dan visual spasial si Kecil.
2. Menunjang pertumbuhan
Kandungan kalsium yang terdapat dalam susu penting untuk pertumbuhan anak. Karena kandungan kalsiumnya yang tinggi, susu punya peran penting dalam pertumbuhan tulang yang membuat anak menjadi bertambah tinggi.
3. Jaga kesehatan
Susu dengan nutrisi lengkap seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral juga sangat menunjang kesehatan dan mencegah si Kecil sakit. Kondisi fisik yang sehat dan kuat, membuka kesempatan untuk anak agar dapat berprestasi di masa depan.
Selain mengasah kemampuan belajar si Kecil, jangan lupa juga Mam untuk mendukung tumbuh kembangnya dengan memenuhi kebutuhan nutrisi hariannya. Tak hanya dari asupan makanan dan minuman yang bergizi, Mam bisa memberikan si Kecil nutrisi tambahan dari susu pertumbuhan.
S-26 Procal Gold hadir dengan Most Advanced Formulation yang dilengkapi Multilearn Connect, kombinasi nutrisi penting untuk mendukung perkembangan otak dan sistem saraf si Kecil secara optimal.
Diperkaya Sphingomyelin & Fosfolipid untuk membantu mempercepat arus informasi di otak, AA & DHA untuk perkembangan otak, serta Alfa-laktalbumin yang mendukung komunikasi saraf. Didukung nutrisi tepat dengan jumlah dan waktu yang tepat, S-26 Procal Gold membantu si Kecil tumbuh cerdas, siap belajar, dan berkembang optimal hari ini hingga masa depannya.
Pertanyaan Seputar Gaya Belajar Kinestetik
1. Bagaimana trik mendidik anak kinestetik di rumah agar orang tua tidak cepat kelelahan?
Bagi waktu belajar menjadi sesi singkat dan selingi dengan movement break. Aktivitas seperti bermain peran, menyusun balok, atau eksperimen sederhana juga dapat membantu anak tetap fokus.
2. Apakah wajar jika anak kinestetik terlihat sulit fokus saat diminta duduk diam?
Ya. Sebagian anak lebih mudah belajar melalui aktivitas yang melibatkan gerakan dan pengalaman langsung dibandingkan duduk diam dalam waktu lama.
3. Nutrisi spesifik apa yang paling baik untuk daya ingat anak yang super aktif?
DHA, kolin, zat besi, zink, protein, serta vitamin dan mineral berperan penting dalam mendukung perkembangan otak dan proses belajar anak. Pastikan kebutuhan nutrisi tersebut terpenuhi melalui pola makan dengan gizi seimbang.
Referensi:
- Lockman, J. J., & Tamis-LeMonda, C. S. (2021). Young Children's Interactions with Objects: Play as Practice and Practice as Play. Annual review of developmental psychology, 3(1), 165–186. https://doi.org/10.1146/annurev-devpsych-050720-102538
- Ruhland, S., & Lange, K. W. (2021). Effect of classroom-based physical activity interventions on attention and on-task behavior in schoolchildren: A systematic review. Sports medicine and health science, 3(3), 125–133. https://doi.org/10.1016/j.smhs.2021.08.003
- Newton, P. M., Najabat-Lattif, H. F., Santiago, G., & Salvi, A. (2021). The Learning Styles Neuromyth Is Still Thriving in Medical Education. Frontiers in human neuroscience, 15, 708540. https://doi.org/10.3389/fnhum.2021.708540
Produk wyeth nutrition

