Fakta dan Mitos Pembentukan Karakter Anak

Fakta dan Mitos Pembentukan Karakter Anak

Waktu membaca: 5 menit

Tahukah Mam, karakter adalah elemen utama dari kepribadian manusia. Karakter terdiri dari sikap, keyakinan, dan nilai individu. Karakter mengacu pada rasa percaya, integritas, dan pandangan, dan juga mencerminkan martabat dan kehormatan seseorang. Apabila seorang anak memiliki karakter yang baik, maka ia akan memiliki semacam panduan menuju kesuksesan di masa depan. Lebih lanjut, karakter juga membentuk perilaku dan identitas (Pradhan, 2009).
Nah, sering kali kita mendeskripsikan karakter sama dengan kepribadian (personality), padahal dua hal ini sangat berbeda, lho. Pembentukan karakter sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Sementara, kepribadian adalah sifat seseorang yang ditunjukkan secara konstan sepanjang waktu, dalam situasi apa pun. Apalagi ya yang membedakan antara kepribadian dengan karakter? Yuk, kita lihat beberapa fakta dan mitos tentang pembentukan karakter anak berikut.

Kepribadian dipengaruhi oleh DNA dan genetik.
Fakta dan mitos. Sebenarnya, sampai saat ini masih ada perdebatan mengenai apakah kepribadian dipengaruhi oleh DNA dan genetik. Pada awalnya sebuah penelitian tentang kepribadian anak kembar membuat para ahli meyakini bahwa kepribadian sangat dipengaruhi oleh DNA dan genetik. Sementara bukti genetik termutakhir menemukan bahwa tidak ada genetik khusus untuk kepribadian. Namun demikian, para ahli sepakat penelitian awal yang menyatakan kepribadian dipengaruhi oleh genetik tidak dapat disangkal begitu saja, mengingat bahwa dalam penelitian awal tadi terlihat anak kembar tersebut menunjukkan kemiripan kepribadian. Sampai saat ini para peneliti masih terus melakukan penelitian mengenai hal ini (Kraus, 2013). 

Kepribadian ditentukan oleh urutan lahir.
Mitos. Cara Mam dan Pap memperlakukan anak pertama, kedua, dan seterusnya, serta anak tunggal lah yang mempengaruhi kepribadian anak. Pada umumnya, orang tua lebih santai ketika mengasuh anak kedua dan seterusnya jika dibandingkan dengan ketika mengasuh anak pertama (LoBue, 2018). Hal ini disebabkan karena orang tua sudah memiliki pengalaman dan sudah tahu apa yang diharapkan dan apa yang akan terjadi saat anak kedua, ketiga, dan seterusnya lahir. Pengalaman membuat orangtua merasa rileks dan mungkin juga menjadi lebih sibuk dengan bertambahnya anak di dalam keluarga sehingga banyak aturan-aturan yang “dilanggar”. Pola pengasuhan anak yang berbeda-beda ini memberikan banyak pengaruh pada kepribadian dan pembentukan karakter anak.

Kepribadian tidak pernah berubah seumur hidup.
Mitos. Kepribadian memang relatif stabil dari waktu ke waktu, tetapi dapat dan sering berubah secara bertahap sepanjang rentang hidup. Perubahan biasanya menjadi lebih baik. Banyak penelitian menunjukkan bahwa dengan bertambahnya usia, anak memiliki kepribadian yang lebih baik (misal, menjadi lebih menyenangkan, teliti, tangguh secara emosional). Namun perlu diiingat pula bahwa perubahan ini cenderung terjadi dalam rentang waktu bertahun-tahun atau bahkan dekade, tidak terjadi dalam hitungan hari atau minggu. Perubahan kepribadian yang tiba-tiba dan drastis jarang terjadi (Soto, 2016). 

Kepribadian dipengaruhi oleh penyakit.
Mitos dan fakta. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hobgood (2011), ditemukan bahwa penyakit sangat dipengaruhi oleh genetika dan kepribadian dipengaruhi oleh genetika. Ketika seseorang sakit, maka ia memiliki kepribadian yang lebih submisif dan menurunkan aktivitas norepinefrin. Norepinefrin bertugas untuk menaikkan detak darah dan memompa darah ke jantung. Neropinefrin juga meningkatkan tekanan darah yang membantu pemecahan lemak dan menaikkan level gula dara untuk menyediakan lebih banyak energi pada tubuh. Namun, kembali pada teori genetika, pendapat ini masih perlu diteliti lebih lanjut ya, Mam.

Kepribadian mempengaruhi preferensi pribadi.
Fakta. Penelitian yang dilakukan oleh Dollinger (1993) mengenai kepribadian dan pilihan genre musik menyebutkan bahwa orang dengan kepribadian sensation seeker lebih menyukai musik rock dan orang dengan kepribadian ekstrovert dan terbuka lebih menyukai musik yang lebih bergairah.

Dengan mengetahui karakter dan kepribadian anak, Mam dan Pap dapat memberikan pola pengasuhan terbaik bagi anak agar dapat membantu anak terjaga kesehatan mentalnya juga untuk membantunya meraih potensi diri yang setinggi-tingginya sehingga si Kecil menjadi anak hebat. Untuk dapat memahami karakter dan kepribadian anak, Mam dapat membaca buku-buku atau artikel mengenai kepribadian, atau bila memang diperlukan Mam juga bisa berdiskusi dengan psikolog anak. 
    

Sumber:
Dollinger, S. J. (1993). Personality and music preference: Extra-version and excitement seeking or openness to experience?Psychology of Music, 21,73–77.
Pradhan, Rabindra. (2009). Character, Personality and Professionalism.
Kraus, M. W. (2013). Do Genes Influence Personality? A summary of recent advances in the nature vs. nurture debate. Diakses melalui https://www.psychologytoday.com/us/blog/under-the-influence/201307/do-g… pada tanggal 26 Agustus 2020
LoBue, V. (2018). Does Birth Order Matter. Are the real differences between children born first and children bornlater? Diakses melalui https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-baby-scientist/201804/does-… pada tanggal 26 Agustus 2020
Soto, C. (2016). Personality can change over a lifetime, and usually for the better. Diakses melalui https://www.npr.org/sections/health-shots/2016/06/30/484053435/personal… pada tanggal 26 Agustus 2020
 

Yuk Cari Inspirasi Hebat Lainnya

Average Rating
Average: 4.5 (2 votes)
Berikan Rating

Please login to leave us a comment.

Login