Cara Mendidik Anak yang Baik Sesuai dengan Tahapan Usia

Cara Mendidik Anak yang Baik Sesuai dengan Tahapan Usia

Waktu membaca: 6 menit

Beda keluarga, akan berbeda pula pola pengasuhan yang diterapkan. Begitu juga dengan cara mendidik anak yang baik, karena sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai yang dianut dalam sebuah keluarga dan ingin diajarkan. 

Hal pertama yang harus disadari ketika menjadi orangtua adalah mengenal dan memahami si Kecil. Selain bertumbuh secara fisik, si Kecil juga berkembang (secara intelektual, psikososial, dan moral) sesuai dengan tahapan usianya. 
Menurut Havighurst (1960), usia kanak-kanak adalah usia emas (golden age) yang harus dilewati oleh setiap manusia dan juga merupakan awal kesiapan belajar anak, jika usia kanak-kanak tumbuh dan berkembang dengan baik maka si Kecil akan tumbuh dan berkembang dengan matang pada usia selanjutnya.

Orangtua yang mengenal dan memahami si Kecil dapat membuatnya merasa bahwa keberadaannya memiliki arti, sekaligus dapat membantu Mam & Pap menentukan cara mendidik anak yang baik sesuai dengan tahapan usia mereka.

Cara Mendidik Anak Bayi
Masa bayi merupakan masa dimana perubahan dan pertumbuhan berjalan sangat cepat, terutama dalam tahun pertamanya. Dalam waktu dua hingga enam bulan pertama, si Kecil memiliki begitu banyak tugas perkembangan. 

Menurut Jean Piaget, usia 0-2 tahun termasuk dalam tahapan sensori-motorik. Ia mengenal diri serta lingkungannya dengan indra (sensori) dan juga tindakannya (motorik). Melihat, meraba, mengecap, mencium, mendengar, dan menggerakan anggota tubuhnya merupakan pencapaian besarnya!

Sentuhan berupa usapan, pelukan dan ciuman, serta dukungan Mam dan Pap adalah sangat berarti untuknya. Cara mendidik anak yang baik di masa awal kehidupannya adalah dengan mendampingi ia dengan penuh kasih sayang sehingga si Kecil merasa aman dan nyaman.

Ketika ia belum mampu menyatakan keinginannya dengan kata-kata atau pun isyarat, jangan abaikan setiap tangisannya. Meskipun terkadang Mam dan Pap bingung dengan arti tangisnya seolah tidak ada yang salah, tunjukkan bahwa Mam dan Pap peduli padanya dan selalu ada setiap saat. Atau, ya, ia memang hanya ingin diayun sambil dipeluk!

Cara Mendidik Anak-Anak
Saat anak berusia 2-6 tahun, para orangtua seringkali menyebut periode ini sebagai periode bermasalah (problem age) —sebut saja berbagai problem tingkah laku seperti keras kepala, tidak menurut, tempertantrums, mimpi buruk, iri hati, ketakutan akan sebuah hal, dan sebagainya. 

Si Kecil yang tadinya selalu menginginkan kelekatan dengan Mam dan Pap mulai menunjukkan penolakan. Ditambah dengan periode prasekolah ini sebagai periode eksplorasi sehingga ia akan sangat berusaha untuk menguasai dan mengontrol lingkungannya

Bukan hanya Mam dan Pap yang ‘merasa kesulitan’ mengendalikan si Kecil. Semakin Mam dan Pap menerapkan cara mendidik anak dengan nada tinggi, justru hanya akan membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang keras. 
Kenali tugas perkembangan si Kecil dan bantu ia melewatinya dengan penuh kasih sayang: 
 

  1. Toilet Training. Bukan hanya belajar buang air, keberhasilan toilet training membentuknya menjadi pribadi yang mandiri, mampu menguasai diri, dan mendapatkan pandangan jauh ke depan. 
  2. Membedakan gender. Melalui observasi, si Kecil akan melihat tingkah laku yang berbeda dari sesama dan lawan jenisnya, dan cara bekerjasama dengan mereka.
  3. Belajar mencapai stabilitas. Dibanding orang dewasa, emosi si Kecil memang lebih mudah berubah, sebentar marah lalu kembali bermain. Penting baginya untuk belajar menjaga keseimbangan terhadap perubahan.
  4. Mengenal kesadaran tentang harga diri dan kemampuan diri, membedakan mana yang baik dan buruk, serta belajar menyampaikan dan menanggapi perasaan dengan orangtua, keluarga, dan orang lain.
     

Cara Mendidik Anak Usia Sekolah
Masa anak sekolah berlangsung pada umur 6-12 tahun. Disebut sebagai masa anak sekolah karena memang si Kecil telah siap untuk mendapatkan pendidikan di sekolah dan perkembangannya berpusat pada aspek intelektual. Menurut Erikson, si Kecil pada masa ini merasa siap untuk menerima tuntutan yang dapat timbul dari orang lain dan melaksanakan/menyelesaikan tuntutan itu. Sehingga dinamika di sekolah memang tepat bagi mereka. 

Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya, dianggap sebagai tanda yang paling menonjol dalam tahapan ini. Kebutuhan mereka untuk mencapai kebebasan pribadi dan diterima oleh teman sebaya, sangat tinggi. 

Cara mendidik anak yang baik bisa dilakukan dengan menjadi orangtua yang dianggapnya memahami tentang setiap emosi yang dirasakannya, mengikuti update tentang tren terbaru atau serunya bermain dengan mainan favoritnya. Bukan hanaya si Kecil jadi anak hebat, Mam dan Pap tentu juga jadi orangtua yang hebat!


Sumber:
Hetherington, E.M., Parke, R.D. 2000. Child Psychology. California: Mc. Graw Hill College.
Hurlock, E. 1990. Developmental Psychology, A Life-Span Approach. 5th edition. (terj. oleh Istiwidayanti). Jakarta: Penerbit Erlangga.
Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga
American Academy of Pediatrics. Caring for Your Baby and Young Child: Birth to Age 5, Sixth Edition
https://www.babycenter.com/0_how-to-raise-a-happy-child-ages-2-to-4_149… [diakses pada 2 November 2020]
Jannah, M. 2015. Tugas-Tugas Perkembangan Pada Usia Kanak-Kanak. Gender Equality: International Journal of Child and Gender Studies, Vol. 1, No. 2.
 

Yuk Cari Inspirasi Hebat Lainnya

Average Rating
Average: 4 (1 vote)

Berikan Rating

Please login to leave us a comment.

Login