Kenali Tahapan Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini

Tahukah Mam? Perkembangan bahasa anak dimulai sejak saat ia dilahirkan. Meski pada waktu itu si Kecil belum dapat mengutarakan kata-kata, melalui tangisan, ekspresi wajah, dan gerakkan, ia berusaha menjalin komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Setelah melewati fase bayi, perkembangan bahasa anak usia dini berlangsung semakin pesat. Mam pun akan melihat betapa menakjubkan peningkatan kemampuan si Kecil dalam berbahasa maupun berkomunikasi. Secara umum, perkembangan bahasa anak dibagi menjadi dua tahap, yaitu:
 

1. Tahap pralinguistik

Tahap ini berlangsung pada fase bayi. Si Kecil berusaha melakukan komunikasi dengan Mam dan orang-orang di sekitarnya dengan cara menangis, menjerit, dan tertawa. Kemampuan ini akan meningkat dengan bentuk komunikasi yang lebih verbal, yaitu ia mulai dapat mengoceh meski kata-kata yang ia ingin ucapkan masih belum jelas.
 

2. Tahap linguistik

Ini adalah fase si Kecil belajar berbicara. Pada tahap ini, anak sudah dapat mengucapkan kata-kata dengan baik seperti orang dewasa. Ia juga sudah dapat merangkai banyak kata dalam satu kalimat.

Periode kritis perkembangan kemampuan berbahasa anak terjadi pada tahap usia dini, yakni sejak ia lahir sampai berusia 6 tahun. Berikut perkembangan bahasa anak usia dini berdasarkan tahapan usia:
 

0-12 bulan

Si Kecil sudah dapat merespons suara, menunjukkan ketertarikan sosial terhadap wajah dan orang, babbling (mengulang konsonan/vokal), memahami perintah verbal, dan mampu menunjuk ke arah yang diinginkan. Umumnya, bayi mulai dapat berucap usia 10-16 bulan, setelah sebelumnya ia banyak mengoceh. Biasanya, kata-kata yang pertama kali diucapkan si Kecil adalah nama atau panggilan orang-orang di sekitarnya.
 

1-2 tahun

Si Kecil sudah bisa memproduksi dan memahami kata-kata tunggal, mampu menunjuk bagian-bagian tubuh, dan perbendaharaan katanya meningkat pesat. Si Kecil mulai memahami makna di balik pernyataan maupun instruksi sederhana seperti “lempar bola”, “ambil mainan”, dan “tepuk tangan”. Menurut para ahli, rata-rata bayi mengalami “ledakan bahasa” di usia 19-20 bulan. Pada saat ini, anak bisa mempelajari kata-kata baru hingga sembilan kata per hari.
 

2-3 tahun

Si Kecil mampu memahami percakapan yang familiar (misalnya oleh keluarga), mampu melakukan percakapan melalui tanya-jawab, dan mampu bertanya “kenapa”. Ia juga sudah mampu mengucapkan kalimat yang terdiri atas dua kata atau lebih, seperti “ndak mau”, “tan pue” (makan kue), “patu” (apa itu), meski pengucapannya belum sempurna.
 

3-4 tahun

Seiring meningkatnya keterampilan si Kecil dalam bersosialisasi, kemampuan berbicaranya pun semakin membaik. Pemahaman kosakatanya semakin luas. Ia telah mampu memahami konsep-konsep warna, bentuk, ukuran, peristiwa, rasa, tekstur, dan bau.

Pada usia ini, si Kecil senang berkomunikasi dengan teman atau anak lain seusianya. Ia juga memiliki rasa ingin tahu yang besar, sehingga sering mengajukan berbagai pertanyaan, seperti “Apa ini?”, “Kenapa begini?”, “Dari mana datangnya ini?”, dan lain-lain.
 

4-5 tahun

Kemampuan bicara anak usia 4-5 tahun hampir sama dengan orang dewasa. Pada usia ini, si Kecil sudah bisa membedakan kata kerja dan kata ganti, seperti makan, minum, mandi, dan tidak mau. Hal yang mungkin juga menakjubkan bagi Mam, si Kecil kini sudah bisa memberikan kritik, mengajukan banyak pertanyaan, bahkan menyuruh atau memberi tahu.
 

5-6 tahun

Pada usia  ini, perkembangan bahasa anak sudah sangat kompleks. Ia sudah bisa memahami bahwa bahasa bukan sekadar ucapan, tetapi mengandung makna yang lebih luas. Melalui bahasa, si Kecil dapat menyatakan pendapatnya; mengekspresikan keinginan, penolakan, dan kekagumannya; berinteraksi dengan teman-teman sebayanya, dan berimajinasi.

Mam perlu mengetahui bahwa kemampuan berbahasa si Kecil dapat menjadi salah satu indikator perkembangan keseluruhan anak. Melalui kemampuan berbahasa si Kecil, Mam dapat mendeteksi keterlambatan ataupun kelainan pada sistem lain, seperti kemampuan kognitif, sensorimotor, psikologis, emosi, dan lingkungan di sekitar anak. Dalam hal ini, deteksi dini sangatlah penting agar intervensi atau penatalaksanaan stimulasi dapat segera dilakukan.

Bila Mam mencurigai si Kecil mengalami keterlambatan berbicara, misalnya karena ia terlalu sering diam atau jarang mengoceh, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Terlambat bicara juga bisa menjadi tanda dari beberapa kondisi, seperti gangguan pendengaran, autisme, keterbelakangan mental, bilingual, dan gangguan perkembangan multisistem.

Pastikan Mam mendukung tumbuh kembang si Kecil dengan memberikan asupan nutrisi yang menyeluruh. Bila perlu, berikan si  Kecil mengonsumsi S-26 Promise dengan NUTRISSENTIALS yang mengandung protein, omega 3, omega 6, serta berbagai jenis vitamin dan mineral penting. Susu dengan rasa vanila lezat ini diformulasikan khusus untuk mendukung pertumbuhan fisik maupun mental anak usia 3-12 tahun. Tersedia kemasan softpack 400 dan 700 gram.
 

Referensi:

  1. kajianpustaka.com/2013/06/tahapan-perkembangan-bahasa-anak.html
     

Sumber:

  1. nakita.grid.id/Batita/Tahap-Perkembangan-Bahasa-Anak
  2. parentingclub.co.id/smart-stories/mengenali-tahapan-tumbuh-kembang-anak-usia-batit
  3. ayahbunda.co.id/bayi-psikologi/rajinlah-ajak-bayi-bicara
  4. Semiawan, Conny R. 2000. Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
  5. Renck Jalongo, Mary. 2007. Early Childhood Language Arts .USA:Pearson Education Inc.
  6. Susanto, Ahmad. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenada Group.
     

Diakses pada 10 September 2017

This article was helpful for 0 moms.


Smart Strength Finder

Merupakan tool bagi orangtua untuk mengetahui kepintaran si Kecil. Hasil tes Smart Strength Finder akan membantu orangtua dalam memberikan stimulasi tepat sesuai dengan kepintaran si Kecil.

Lihat selengkapnya